| Warga Muslim-Hindu di Karangasem mesti Lestarikan Hubungan Keluarga |
|
Buka Puasa di Puri Gede Bupati Karangasem I Wayan Geredeg mengatakan hal yang sama. Menurutnya, tanpa persahabatan dan kegotong-royongan, maka apa pun yang bakal dikerjakan akan sulit terwujud. Dia menyebutkan belakangan ini dengan perkembangan yang ada seperti di luar Bali, sudah ada perpecahan di sana-sini sebagai akibat perbedaan dan kesukuan yang ditiupkan. ‘’Mari kita jangan mempertentangkan perbedaan, tetapi sesama umat manusia kita wajib bersahabat. Seperti disampaikan manggala Puri Gede, antara warga muslim di berbagai kampung dengan warga di sekitarnya di Karangasem ada sejarah hubungan kekeluargaan. Tak seorang pun yang bisa menolak kenyataan hubungan dekat itu,’’ katanya. Wakil Ketua MUI Karangasem Mursyid, S.Ag. dalam uraian ramadhannya menyampaikan sangat sependapat. Menurutnya, warga muslim di berbagai kampung terutama di kota Amlapura umumnya memiliki tanah pauman. Semua lahan itu merupakan pemberian raja Karangasem, dan ketika raja memerlukan karena ada hajatan tertentu, maka warga muslim ngayah ke istana sembari membawa hasil bumi yang diperlukan. Dalam Islam, lanjutnya, umatnya diwajibkan bergaul dan saling hormat dengan siapa saja . Dicontohkan, saat seorang rumah tangga muslim memasak makanan yang baunya merebak sampai ke tetangga, maka mereka diwajibkan membawa makanan itu kepada 41 rumah di kiri, kanan, depan dan belakang. Dalam tradisi masyarakat di Karangasem, menyampaikan makanan kepada tetangga itu disebut ngejot. Sementara, Ketua PUSunda Bali, Jaka, mengatakan sejak paguyuban itu di Karangasem pengurusnya dilantik, pihaknya menitip warganya. Warga itu di Bali mencapai puluhan ribu dengan berbagai profesi. Mereka diharapkan ikut membangun wilayah di mana bumi dipijak. |







![]() | Hari ini | 54 |
![]() | Kemarin | 206 |
![]() | Minggu ini | 54 |
![]() | Bulan ini | 4794 |
![]() | Total | 185778 |